Statistik Pengunjung

151166
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
26
19
108
150861
351
883
151166

Your IP: 23.22.136.56
Server Time: 2017-12-14 20:33:33
AWAS HOAX..............!!!!!
SISWA BERBAKAT 2016
Tim Sepak Bola MTs Al-Mukarromah
Penyerahan Bantuan Pendidikan dari GNOTA Kab. Cilacap
Pentas Seni dalam acara Perpisahan
Drum Band MTs Al-Mukarromah pada acara Pesta Siaga Kwarran XI.01.20
Gerbang MTs Al-Mukarromah
Gedung MTs Al-Mukarromah
Silaturrahim Wali Murid
Lab. Komputer
Camat Sampang Menyerahkan Piala Juara I

Beranda

“MELAWAN HOAX DAN FITNAH, SING WARAS OJO NGALAH”.

 

 “MELAWAN HOAX DAN FITNAH, SING WARAS OJO NGALAH”.

Oleh: Imam Asy’ari, S.Ag.,M.Pd. *)

Pengertian Hoax

Secara bahasa, kata “hoax” berasal dari kata “hocus pocus” yang aslinya dari bahasa Latin “hoc est corpus” artinya: “ini adalah tubuh”. Kata ini biasa digunakan penyihir untuk mengklaim bahwa sesuatu adalah benar padahal belum tentu benar.[1] Dalam kamus lengkap Inggris-Indonesia, kata hoax diartikan senda gurau.[2] Sedangkan pengertian berita hoax secara umum adalah: sebuah informasi yang diada-adakan dan tidak sesuai dengan kenyataan bahkan menjurus ke fitnah dengan tujuan tertentu.[3] Dari ke tiga pengertian hoax baik secara bahasa maupun istilah umum sangat jelas bahwa hoax adalah merupakan kebohongan, kepalsuan, penipuan dan lain-lain. Pendek kata,  lafadz hoax adalah representasi dari sebuah kejahatan dalam dunia informasi dan komunikasi yang akan berimbas kepada sendi-sendi kehidupan manusia lainnya. 

 

Hoax yang kemudian lazim disebut berita palsu telah menjadi fenomena di era kehidupan gelobal. Seiring derasnya perkembangan teknologi informasi, peredaran kabar bohong semakin merajalela. Parahnya lagi dengan merebaknya media sosial dalam berbagai jenis fitur dan layanan yang ada, penyebaran berita palsu telah membentuk situasi kacau dalam kehidupan sosial. Berita benar dan kabar bohong saling berhembus, hilir mudik silih berganti memasuki ruang-ruang pribadi dan publik. Pada gilirannya khalayak akan semakin dibuat menjadi bimbang saat mendapat sajian berita yang beraneka ragam hingga persepsi mereka kabur dalam menyantap hidangan berita yang tidak jelas aroma, warna dan rasanya. Publik menjadi bingung dalam memilah berita mana yang benar dan mana yang salah, mana yang hak dan mana yang batil. Salah-salah berita palsu yang memakan manusia sampai kerap beredar istilah orang termakan isu.

Pada dasarnya menyebarkan berita palsu sama saja berbicara bohong atau berdusta.  Berdusta adalah perbuatan tercela dan termasuk salah satu tanda-tanda orang munafik. Hal ini telah lama disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya:

اية المنافق ثلاث : اذا حدث كذب واذا وعد اخلف واذا اؤتمن خان

Artinya: Tanda-tanda orang munafiq itu ada 3 (tiga), yakni: 1). jika berkata, ia berdusta, 2). jika berjanji ia mengingkari, 3). jika diberi amanat, ia berkhianat. (HR. Bukhori)

Sebagai warga negara yang beragama hendaknya tidak diam saat ada berita hoax yang masuk ke ruang kita. Usaha menangkal dan memerangi, atau sekurang-kurangnya menahan diri dari partisipasi dalam penyebaran berita hoax harus kita tempuh. Hal ini diperlukan agar kebenaran informasi dan fakta kebenaran bisa berimbang sehingga tidak merugikan orang banyak yang kelak menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat baik ideologi, politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Ajakan moral perangi hoax ini juga dilontarkan oleh tokoh ulama kharismatik sekaligus budayawan senior, KH. Musthofa Bisyri yang akrab disapa Gus Mus. Dalam Sarasehan Nasional di Semarang, 20 April 2017, bertema: Melawan Hoax Mengembalikan Jati Diri Bangsa, beliau bahkan membuat statemen; “Sing Waras Ojo Ngalah; dalam melawan penyebaran kebencian dan HOAX tidak berlaku ungkapan Sing Waras Ngalah”. Walaupun sudah menjadi hal lumrah dan kaprah,berita hoax harus dilawan dan setiap pribadi yang mengetahui fakta kebenaran di balik berita hoax tertuntut untuk pro aktif mengatakan kebenaran tersebut meskipun pahit rasanya.      

Cara Mengidentifikasi Hoax

 Untuk dapat menyelamatkan masyarakat dari gencarnya penyebaran berita hoax, perlu pembelajaran secara masif kepada publik tentang kiat identifikasi hoax. Lazimnya suatu pesan atau berita dilontarkan untuk dipercaya atau diyakini kebenarannya, sehingga ditindak lanjuti oleh si penerima berita. Tidak heran jika berita palsu akan dishare ke publik, pembuat berita akan sekuat tenaga mengemas pesan agar meyakinkan. Cara sederhana untuk identifikasi berita hoax adalah dengan mengenali ciri-cirinya[4], yaitu:

1. Redaksi berita diakhiri dengan perintah atau permintaan agar penerima mengirim berita itu kepada sebanyak-banyak relasi atau teman. Tekanan perintah share yang semakin kuat, justru mengindikasikan  adanya unsur kepalsuan berita.

2. Gaya bahasa dalam berita yang terlalu berempati dan tata penulisan berita sarat dengan kejanggalan berupa huruf kapital (ABCD) serta tanda baca seru berderet panjang (!!!!), membuka celah informasi bahwa berita itu tidak meyakinkan. Seperti modus tangisan dalam telpon penipuan untuk menarik empati seorang ibu agar mau transfer sejumlah uang untuk berobat anaknya yang diberitakan kecelakaan.

3. Berita yang dikirim terkesan sangat penting dan menggembirakan tapi tidak didukung data akurat, seperti pengirim yang tidak valid. Contoh SMS undian berhadiah dari suatu perusahaan, tapi nomor pengirim ternyata ponsel perseorangan, pasti berita itu hoax.

4. Berita dinas tentang bantuan atau menyebut pejabat suatu instansi tetapi yang dicantumkan kontak person seseorang, alurnya mudah ditebak bahwa pengirim berita akan menjebak penerima pesan agar terjadi interaksi dan transaksi.

5. Isi berita yang berkait isu tertentu tanpa sumber yang berwenang, seperti informasi porsi haji bukan dari Kementerian Agama, berita layanan kesehatan bukan dari dinas resmi, berita ketertiban lalu lintas bukan dari aparat kepolisian, berita tentang bahaya makanan dan minuman bukan dari BPOM, semua menjurus kepada berita hoax.

6. Berita yang dikaitkan dengan suatu lembaga atau stake holder tertentu yang terindikasi sengaja dicatut namanya agar terkesan resmi, perlu dicross chek dengan instansi tesebut sehingga terkuak fakta kesahihan berita.

7. Pesan berrantai yang sepatutnya tidak jadi bahan hoax dalam isu tertentu tetap harus diklarifikasi kebenarannya kepada sumber yang dapat dipercaya sebelum diforward kepada orang lain. Contoh: sms berrantai wafatnya tokoh ulama, KH. Sahal Mahfudz (waktu itu Ketua MUI Pusat), langsung diumumkan di masjid Baiturrahmah Karangjati Sampang Cilacap, ternyata beliau masih hidup, hanya sedang dirawat di rumah sakit.   

     Beberapa ciri tersebut hanya sebagai sample dari ragamnya berita hoax, baik di face book, WhatsApp, Line, Twitter, Instragram, SMS dan lain-lain. Masih banyak modus pemalsuan berita dan pemberitaan palsu yang perlu terus diwaspadai agar tidak memakan korban. Perangkat hukum berupa UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang berlaku mulai 28/11/2016 dan Fatwa MUI No. 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Mu’amalah Melalui Media Sosial kiranya bisa meminimalisir beredarnya berita hoax di masyarakat.

Dampak Negatif Hoax

Pada mulanya media sosial tercipta untuk misi kebaikan kehidupan manusia, terutama dalam hal transformasi informasi. Produk layanan informasi dengan sentuhan teknologi yang semakin canggih telah menfasilitasi jutaan manusia dalam kancah komunikasi gelobal. Namun sejalan dengan bergesernya peradaban manusia, teknologi informasi hanya benda tak berperi yang tidak punya nurani dan orientasi kecuali intruksi dari user-nya yang bisa mengoperasikan yakni manusia. Laksana pisau di dapur dapat beraksi ganda yakni manfaat saat merajang bahan makanan dan madlarat saat menyayat nadi manusia hingga mengundang kematian. Peran pisau yang kedua (menghilangkan nyawa orang) bukan atas gagasan produsen benda tajam tersebut namun semata-mata bergerak atas intruksi penggunanya yakni manusia.

Begitupun teknologi informasi ada kalanya menebar hikmah dan ilmu pengetahuan, pesan-pesan moral keagamaan, misi kemaslahatan kemanusiaan. Akan tetapi di kala yang lain, teknologi informasi juga kerap menebar kebohongan, antagonisme, sarkasme, fitnah, ghibah,namimah dan lain sebagainya. Bahkan ujaran yang paling tabu diucapkan di ranah nyata, akan sangat nyaman diungkap di media sosial atau dunia maya. Semua kembali kepada manusia sebagai operator ataupun user teknologi informasi. Di ujung jari manusia media sosial akan ditentukan misinya, akan menyebarkan berita fakta ataukah kabar dusta.

Secara umum berita hoax yang berseliweran di media sosial sangat membahayakan masyarakat. Setidaknya kabar kabur dan berita palsu bisa menyesatkan dan meresahkan masyarakat karena membentuk opini publik yang tidak sesuai fakta, data dan realita. Pada gilirannya reaksi masyarakat bisa terjerumus kepada situasi saling bertentangan, saling menyerang, saling menghujat, mencaci maki satu dengan yang lain. Beberapa dampak negatif dari penyebaran hoax antara lain:

1. Timbulnya fitnah, karena berita yang diangkat berdasarkan rekayasa data atau fakta yang dibuat-buat sehingga tampak seolah-olah benar. Biasanya berita hoax bertema politik (Pemilihan Umum; Pilpres, Pilkada, Pilleg) untuk mempengaruhi animo calon pemilih, tema ekonomi (persaingan bisnis produsen barang dagangan) untuk mempengaruhi animo pasar.   

2. Munculnya gejala ghibah atau pergunjingan terbuka dari praktek share berita hoax, yakni mengumpat tapi di media sosial sehingga akan menumbuhkan sikap benci dari obyek yang digunjingkan dan menyulut api permusuhan.

3. Merebaknya gejala namimah atau adu domba dari budaya hoax yang hanya dilandasi oleh semangat kebebasan dan hak menyampaikan pendapat di hadapan umum. Tema yang sangat ganas dalam ranah ini adalah isu SARA, terutama sentimen antar agama dan Indonesia adalah ladang yang subur bagi persemaian benih adu domba (namimah) karena pluralitas bangsanya.

Cara Mengedukasi Siswa/Keluarga/Kolega untuk Memerangi Hoax 

Jika ada orang mengirim berita apapun, apalagi yang kebenaran isinya meragukan, maka hendaknya kita klarifikasi atau tabayyun kepada yang bersangkutan (QS:49:6). Hal ini dilakukan agar kita tidak terjebak dalam informasi bohong atau bahkan mengarah kepada fitnah. Karena fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Berita palsu yang beredar di masyarakat akan menjadi fitnah yang menyakitkan bagi pihak yang menjadi sasaran.

Jadi menyikapi maraknya berita palsu (hoax), sebagai seorang warga negara yang beragama hendaknya tidak tinggal diam. Jika menerima edaran kabar palsu dan kita sadar atas kepalsuan isi berita tersebut, maka sebagai bentuk tanggung jawab moral kita semestinya bertindak tegas memeranginya. Minimal dengan menghentikan beredarnya kabar palsu tersebut, atau lebih hebat lagi mengcaunter isi berita dengan mengedepankan argumentasi bukan emosi dan arogansi.

Rigkasnya, untuk mengedukasi siswa, keluarga dan kolega dalam misi memerangi hoax adalah dengan mengajak mereka menempuh tindakan: a. klarifikasi atau tabayyun berita kepada pihak yang terkait, b.mencari informasi pembanding dengan referensi berita yang akurat (bertanya kepada ahlinya), c.memposting berita faktual yang telah ditelaah dengan sumber yang terpercaya, d.membiasakan tidak menyebarkan berita baru yang  masuk sebelum cek kebenarannya.

Cara-cara tersebut efektif untuk menghindari jatuhnya korban medsos yang marak terjadi di era gelobal dewasa ini. Pengalaman pribadi pernah terjadi saat mendapat sms undian berhadiah dari Telkomsel berupa sebuah unit Mobil Avanza dengan syarat mengirim sejumlah uang ke no rekening terlampir untuk pembayaran pajak undian berhadiah. Akhirnya penulis klarifikasi ke kantor Grapari setempat, ternyata staf kantor tersebut menjelaskan bahwa itu modus penipuan.  Bukti yang tertera pada tek sms adalah redaksi pengumuman ditutup dengan tulisan Telkomsel tetapi di bawah sepasi panjang dan kosong jauh di bawah teks inti ada nomor selular pribadi. Alhamdulillah penulis belum transfer dana sejumlah permintaan broker iseng yang suka berkirim hoax untuk keuntungan pribadi yang haram hukumnya.

Akhirnya, untuk menjadi motivasi memerangi kemungkaran sebagaimana tertuang dalam fatwa MUI No. 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Mu’amalah Melalui Media Sosial maupun penegakan hukum formal dalam UU ITE, maka seluruh elemen harus bersama-sama ikhtiyar mencegah praktek hoax. Sebagai bentuk gerakan moral kita harus bersikap tegas dan aksi nyata melawan hoax. Setiap pihak yang dengan sadar (orang yang waras) mengetahui sebuah berita mengandung unsur hoax dan fitnah hendaknya jangan diam dan mengalah. Dalam misi memerangi atau melawan hoax dan fitnah, berlaku semboyan Sing Waras Ojo Ngalah. Berkiprahlah untuk meluruskan dusta menjadi fakta, berdasarkan data dan realita. Selamatkan bumi Indonesia ini dari serangan hoax yang semakin jahat, jadilah pahlawan informasi untuk keamanan masyarakat.   

 

*) Penulis adalah Guru MTs Al-Mukarromah Sampang Kabupaten Cilacap

Pernah menjadi Juara I Lomba Penulisan Artikel HUT KORPRI ke 43 Tahun 2014 Tingkat Kabupaten Cilacap.

 

 

     



[1]https://hoax88.wordpress.com/tag/arti/diakses: 6/11/2017 pk. 21.10 WIB

[2] Wojowasito – Tito Wasito, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia (Bandung: Hasta, 2007), hlm. 76

[3]http://www.apasiapamana.com/2017/06/apa-sih-hoax-itu-arti-kata-hoax.html diakses: 6/11/2017 : 22.03WIB

[4] https://hoax88.wordpress.com/tag/arti/ diakses: 6/11/2017 pk. 21.10 WIB.