Statistik Pengunjung

151201
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
61
19
143
150861
386
883
151201

Your IP: 23.22.136.56
Server Time: 2017-12-14 20:47:27
AWAS HOAX..............!!!!!
SISWA BERBAKAT 2016
Tim Sepak Bola MTs Al-Mukarromah
Penyerahan Bantuan Pendidikan dari GNOTA Kab. Cilacap
Pentas Seni dalam acara Perpisahan
Drum Band MTs Al-Mukarromah pada acara Pesta Siaga Kwarran XI.01.20
Gerbang MTs Al-Mukarromah
Gedung MTs Al-Mukarromah
Silaturrahim Wali Murid
Lab. Komputer
Camat Sampang Menyerahkan Piala Juara I

Beranda

TRADISI BERKIRIM BUBUR SURO DI HARI ‘ASYURO

Oleh: Imam Asy’ari, S.Ag. *)

            Bulan Muharram atau Sura adalah bulan pertama dalam perhitungan kalender Hijriyyah, yakni penanggalan yang digunakan oleh umat Islam.

Orang Jawa biasa menyebut bulan Muharram dengan nama bulan Sura atau Suro karena pada bulan pertama kalender Hijriyyah ini terdapat tanggal yang dinilai keramat yaitu tanggal 10 (sepuluh) yang dalam bahasa Arab disebut ‘Asyuro (عاشوراء).Dalam tradisi masyarakat Jawa yang sudah berjalan secara turun temurun, menyambut datangnya bulan Sura berarti menyambut datangnya tahun baru Islam yaitu tahun Hijriyyah yang taqwim atau penanggalannya didasarkan pada peredaran bulan. Tradisi tersebut termasuk bagian dari tradisi Islam Nusantara yang merupakan kajian dari Sejarah Kebudayaan Islam (H. Darsono-T. Ibrahim, 2008: 77).


Perayaan tahun baru Islam tanggal 1 Muharram memang tidak semeriah masyarakat merayakan tahun baru Miladiyah atau Masehi pada tiap 1 Januari. Bahkan umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia masih banyak yang belum hafal rangkaian bulan Hijriyyah di sisi lain hafal bulan Miladiyah atau Masehi yang dikatakan juga sebagai kalender Syamsiyyah karena taqwim perhitungan tanggalnya didasarkan pada peredaran matahari. Peserta didik atau para siswa ketika ditugaskan menulis rangkaian bulan Miladiyah atau Masehi akan cepat menjawab dan hasilnya sebagian besar benar jawabannya. Tetapi saat ditugasi menulis rangkaian bulan Hijriyyah kebanyakan mereka tidak bisa atau bisa menyebut 12 (dua belas) bulan tetapi tidak urut.

Dalam realitas di masyarakat Jawa, kebiasaan menyambut tahun baru Islam yakni tahun Hijriyyah bukan pada tanggal 1 Muharram, tetapi ritual perayaan Muharram jatuh pada tanggal 10 Muharram atau hari ‘Asyura. Ritual keagamaan yang lazim dilaksanakan yaitu puasa tanggal 9 dan 10 Muharram yang terkenal dengan puasa Tasu’a dan ‘Asyura. Pada hari ke 10 bulan Muharram itulah sebagian besar ibu-ibu memasak sajian makanan berupa bubur (Bubur Sura) dan jenis lainnya yang akan dikirim ke semua tetangga sebelah dan handai taulan atau sanak famili. Rangkaian kegiatan puasa sampai sajian bubur Sura ini telah mentradisi sejak zaman dahulu secara turun temurun dari generasi ke generasi sampai sekarang. Tradisi berkirim takiran bubur suro di hari ‘Asyuro dari dulu tidak ada pertentangan terkait status hukum tradisi tersebut apakah sunat atau bid’ah. Munculnya tuduhan bid’ah atas tradisi inilah yang mendasari artikel ini ditulis.

Peristiwa Bersejarah dan Mitos Tanggal 10 Muharram / Hari ‘Asyuro

Munculnya mitos dikeramatkannya hari Asyuro dalam tradisi masyarakat Jawa tidak lepas dari banyaknya kejadian atau peristiwa besar yang menimpa berbagai kaum di beberapa zaman. Para Nabi dan Rasul banyak yang menjalani riwayat sejarahnya dengan berbagai liku-liku kehidupannya yang di antara puncak kejadiannya berlangsung pada tanggal 10 Muharram atau hari Asyura. Ada peristiwa yang mengandung nikmat kehidupan, tapi ada juga yang diliputi oleh prahara atau malapetaka yang memilukan. Atas peristiwa kebaikan para Nabi bersyukur dan atas peristiwa musibah mereka bersabar seraya bertafakkur dan tadabbur.

Di antara peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 10 Muharram atau hari Asyura itu ialah:

1.       Alloh SWT menerima taubatnya Nabi Adam AS.

2.       Nabi Idris AS diangkat oleh Alloh SWT ke langit (MB Rahimsyah AR, tt: 16).

3.       Perahu Nabi Nuh AS selamat berlabuh seiring surutnya musibah banjir bandang.

4.       Nabi Ibrahim AS dilahirkan

5.       Alloh SWT menerima taubatnya Nabi Daud AS.

6.       Nabi Isa AS diangkat oleh Alloh SWT ke langit.

7.       Nabi Musa AS dan kaumnya (Bani Israil) selamat dari kejarannya Raja Fir’aun.

8.       Alloh SWT menenggelamkan Raja Fir’aun di lautan merah.

9.       Alloh SWT mengeluarkan Nabi Yunus AS dari perut ikan besar (Nun).

10.    Alloh SWT mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman AS.

11.    Tragedi Karbela yang menewaskan Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW

 

Dan masih banyak peristiwa lain yang terjadi zaman dahulu pada tanggal 10 Muharram atau hari ‘Asyura yang tidak mungkin ditulis semua dalam artikel ini. Demikian banyak peristiwa besar yang menimpa para tokoh pendahulu dan kaumnya, sampai orang Jawa menjadikan mitos bulan Muharram atau bulan Suro sebagai bulan keramat yang tidak dilazimkan melakukan berbagai kegiatan seperti hajatan baik perkawinan maupun khitanan dan lain-lain. Mereka beranggapan jika melaksanakan hajatan di bulan Suro, akan mendatangkan malapetaka yang bisa membahayakan keluarga atau kerabat. Misalnya pernikahan yang tidak harmonis dan  berujung perceraian atau khitanan yang berakhir dengan terjangkitnya penyakit menahun pada si anak yang dikhitan.   

Amaliah Ibadah di Bulan Muharram Khususnya Tanggal 10 / Hari ‘Asyuro

Adapun amaliyah yang biasa dikerjakan oleh masyarakat muslim di berbagai tempat pada tanggal 10 Muharram atau  hari Asyura antara lain adalah sebagai berikut:

1. Puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) yang diawali dengan puasa Tasu’a, yakni tanggal 9.

2. Menyantuni anak yatim dan mengusap kepalanya seraya berdoa sekaligus ngalap berkah.

3. Memasak bahan makanan menjadi sajian bubur lalu dibagikan kepada tetangga.

Beberapa amaliyah tersebut sangat sering dijumpai di kalangan masyarakat Jawa khususnya tradisi membuat dan berkirim takiran bubur Suro kepada tetangga. Beberapa kegiatan di atas memiliki sumber dasar hukum yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Misalnya berpuasa Tasu’a dan ‘Asyura berdasarkan hadits:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء.  فقال : ما هذا؟ قالوا هذا يوم صالح هذا يوم نجى الله بنى اسرائيل من عدوهم فصامه موسى. قال : فأنا احق بموسى منكم. فصامه وامر بصيامه. رواه البخارى ومسلم.

Artinya: Dari Ibnu Abbas RA berkata: Nabi SAW tiba di Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari ‘Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: “Ada apa ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik, pada hari ini Alloh menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini”. Nabi SAW bersabda: “Saya lebih layak dengan Nabi Musa dibandingkan kalian”. Maka Beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa ‘Asyura.(HR. Bukhari no. 2204 dan Muslim no. 1130).   

 Sebagaian amalan lainnya tidak ditemukan keterangan ayat Al-Qur’an atau Hadits Nabi yang kemudian muncul beberapa tuduhan bahwa amalan tersebut bid’ah atau menyimpang dari ajaran Islam. Bahkan dalam situs http://al-manhaj.or.id, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan bahwa semua bentuk perayaan hari ‘Asyura itu bid’ah dan terlarang. Namun penulis mencoba husnudzzon bahwa ada alasan yang benar yang mendasari tardisi mereka yang sejak dahulu secara turun menurun dilakukan tanpa ada permasalahan.

 

Motivasi Masyarakat Muslim Jawa Berkirim Bubur Suro

Dari observasi di lapangan dengan responden, ada beberapa alasan atau tujuan dan motivasi mengapa ibu rumah tangga di keluarga muslim Jawa membuat sajian Bubur Sura di hari ‘Asyura. Sebagian besar masyarakat muslim Jawa menjalankan tradisi Bubur Sura dengan tujuan untuk bersedekah dan ngalap barokah di hari ‘Asyura. Mereka meyakini bahwa sedekah pada hari ‘Asyura sangat baik dan dianjurkan agama. Ada juga yang menyebutkan tradisi Bubur Sura itu adalah kebiasaan yang sudah berjalan secara turun temurun dari zaman nenek moyang dahulu sampai sekarang.

Orang tua dahulu menyebutkan bahwa tradisi ini diilhami oleh peristiwa berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS tanggal 10 Muharram (hari ‘Asyura) di gunung Judy, yang terletak di Armenia sebelah selatan perbatasan dengan Mesopotamia dan telah berlayar di atas banjir bandang berhari-hari atas ujian Alloh SWT (Depag RI., 2009:420). Setelah selamat dari musibah itu,  Nabi Nuh AS menanyakan : “Masih adakah bahan makanan yang dapat dimakan hari ini?” Pengikut setia Nabi Nuh AS menjawab; “Masih ada tetapi tinggal sedikit”. Karenanya Nabi Nuh AS lantas memerintahkan umatnya untuk membuat bubur agar dari bahan yang sedikit dapat dibuat makanan yang banyak dan bisa dibagikan secara merata. Sebagai ungkapan rasa syukur telah diselamatkan dari musibah, Nabi Nuh AS dan pengikutnya bersantap bubur bersama.

Pada umumnya bubur Sura dibuat dari bahan-bahan yang halal seperti beras, santan, garam, gula, jahe, sereh dan lain-lain. Penyajian Bubur Sura dibuat dalam dua bentuk yaitu:

1.   Bubur Putih dengan bahan: beras, santan dan garam serta racikan tambahan lainnya.

2.   Bubur Merah dengan bahan: beras, santan dan gula serta racikan tambahan lainnya.

Falsafah masyarakat Jawa memaknai warna Bubur Sura dengan keterangan bahwa, putih melambangkan kesucian, kebaikan yaitu rasa syukur atas nikmat Alloh SWT. Sedangkan warna merah melambangkan sifat pembanding ada kebaikan ada keburukan, ada kesenangan ada kesedihan, ada nikmat ada musibah. Atas kejadian musibah kita harus bersabar dan tawakkal kepada Alloh SWT. Terhadap keburukan kita harus menjauhinya.

Hukum Tradisi Berkirim Bubur Suro Antara Sunnah dan Bid’ah.

Dari awal penulisan artikel ini sampai akhir terrekam data bahwa masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa tradisi Bubur Sura itu hukumnya sunat. Ada juga yang menyebutkan itu hukumnya mubah atau boleh dilaksanakan dan boleh tidak dilaksanakan, tanpa pengaruh berpahala atau tidak berpahala. Secara umum hukum amalan Bubur Sura dipercaya masyarakat Jawa adalah sunat karena niatnya adalah bersedekah. Sedekah atau berbagi dengan sajian makanan kepada orang lain adalah kebaikan yang tergolong ibadah sunat. Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi Muhammad SAW:

عن امير المؤمنين ابى حفص عمر  الخطابابن رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى. متفق عليه

Artinya: Dari Amirul Mu’minin Abu Hafs yakni Umar bin Khattab RA berkata; “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang (balasan) apa yang diniatkannya itu”. (HR. Bukhari Muslim) (Syaikh Yahya bin Syarofudin An-Nawawi, tt: 5)

Jadi setiap amal itu tergantung dari niatnya si pelaku amalan tersebut. Jika niatnya sedekah maka hukumnya menjadi sunat. Tapi jika niatnya untuk sesaji, atau mitos-mitos kedaerahan (Kejawen) untuk dipersembahkan bagi roh halus atau lainnya, maka itu berarti menyimpang dari ajaran Islam, tergolong bid’ah bahkan lebih beratnya adalah syirik. 

*) Penulis adalah Guru Mapel Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

Dan Kepala MTs Al-Mukarromah Sampang

Di Karangjati Sampang Cilacap