Statistik Pengunjung

151175
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
35
19
117
150861
360
883
151175

Your IP: 23.22.136.56
Server Time: 2017-12-14 20:37:53
AWAS HOAX..............!!!!!
SISWA BERBAKAT 2016
Tim Sepak Bola MTs Al-Mukarromah
Penyerahan Bantuan Pendidikan dari GNOTA Kab. Cilacap
Pentas Seni dalam acara Perpisahan
Drum Band MTs Al-Mukarromah pada acara Pesta Siaga Kwarran XI.01.20
Gerbang MTs Al-Mukarromah
Gedung MTs Al-Mukarromah
Silaturrahim Wali Murid
Lab. Komputer
Camat Sampang Menyerahkan Piala Juara I

Beranda

Kurikulum Pendidikan Berubah, Siapa Terkejut?

Adalah sebuah kelaziman, pemangku kebijakan melakukan perubahan dalam ruang lingkup kewenangannya.

Lumrah adanya, sebuah institusi menguji sebuah gejala lalu mencoba treatment yang dianggap mungkin tepat mengatasi persoalan yang ada. Tak heran beberapa lembaga pemerintah maupun non pemerintah membentuk badan penelitian (research)  dan pengembangan (development) yang bertugas mencermati berbagai persoalan di bidangnya untuk menemukan formula solusinya. Begitupun di dunia pendidikan, berapa kali ganti menteri dibarengi kebijakan pergantian kurikulum pendidikan.

Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan Kemendikbud merancang kurikulum baru adalah bahwa kurikulum lama belum memiliki kepekaan terhadap perubahan social ditingkat local, nasional dan global, seperti fenomena perkelahian antar pelajar, narkoba, korupsi, kejahatan teknologi dan lain sebagainya.  Alasan paling tajam menurut hasil montoring evaluasi Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud tentang dilaunchingnya kurikulum baru ialah gagalnya penerapan KTSP di banyak sekolah/ madrasah, sehingga guru perlu dipacu untuk lebih meningkat profesionalismenya seiring perkembangan teknologi yang cepat dewasa ini.  

Mengintip calon kurikulum baru tahun 2013 yang rencananya akan diluncurkan bulan Juni 2013 dan sudah diuji public sejak akhir 2012, pada dasarnya tak jauh dari kurikulum KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang diberlakukan sekitar tahun 2004. Titik tekan kurikulum KBK cenderung mengarah pada 3 (tiga) ranah utama pembelajaran yakni, afektif, kognitif dan psikomotor. Orientasi kurikulum 2013 juga berfokus pada 3 aspek; sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sangat jelas bahwa para pemikir yang membidani janin kurikulum baru ini berobsesi bahwa kelak pendidikan nasional kita mampu mencetak generasi yang cerdas tapi juga berkarakter dan terampil. Penguasaan konsep baik dibarengi sikap dan prilaku yang berakhlaq mulia serta terampil bekerja sesuai disiplin ilmunya.

Sebuah cita-cita yang mulia dan obsesi yang luhur kurikulum baru, namun prediksi keberhasilannya masih kabur karena dua persoalan.  Pertama, evaluasi akhir masih berbentuk ujian nasional yang hanya mengukur dari satu aspek yakni kognitif atau knowledge. Nilai akhir penentu kelulusan hanya ditentukan oleh penguasaan konsep empat mata pelajaran. Aspek sikap dan keterampilan peserta didik tidak terakomodir dalam penilaian akhir penentu kelulusan. Tragisnya lagi kadang terjadi anak tulus,  nasibnya malang; tidak lulus. Sebaliknya, anak suka mbolos nasibnya mujur; "lolos".  Kondisi ini sangat rentan disimpulkan wali murid bahwa sekolah / madrasah tidak adil, system penilaian dianggap kejam dan lain sebagainya.

Persoalan kedua, program master teacher yang mengharuskan ribuan guru beradaptasi dengan kurikulum baru melalui diklat dan training. Proyek diklat dan training guru mungkin mudah dalam perencanaan baik penentuan anggaran, jadwal palaksanaan maupun tempat dan widya iswara atau trainer. Namun dalam tataran praktek, berapa ribu kekosongan jam pelajaran di kelas karena gurunya diklat sampai 52 jam pelajaran. Imbasnya pada kegiatan utama pembelajaran di sekolah/ madrasah apabila semua guru harus menjalani training secara massal dalam waktu yang bersamaan. Persoalan kedua ini mungkin hanya teknis, masih sangat besar peluang dipecahkan dengan solusi yang lain.

Kesimpulannya, perubahan kurikulum pendidikan adalah hal yang biasa dan tidak perlu disikapi dengan ketakutan, kekhawatiran atau keterkejutan. Dari dulu sudah sering terjadi perubahan kurikulum, toh kita bisa menjalani adaptasi dengan kurikulum yang baru. Demikian halnya dengan kurikulum 2013 kita berharap semua bisa menyikapi dengan tenang dan senang sehingga kita semua bisa menerapkannya di sekolah/ madrasah tanpa bimbang. Semoga Alloh SWT senantiasa mencurahkan ridlo dan rahmat-Nya untuk kita semua sehingga bisa menerima dan menerapkan kurikulum baru di sekolah/ madrasah.

Imam Asy'ari, S.Ag.

   Kepala MTs Al-Mukarromah Sampang Cilacap     .